Notification

×

Iklan

Iklan

Musim Kemarau Akan Datang Lebih Awal dan Berpotensi El Nino Lemah

Kamis, 30 Maret 2023 | 7:15 PM WIB | Di Baca 0 Kali Last Updated 2023-03-30T11:15:52Z

 

Karo AP NTT Prisila Parera Kepala Stasiun BMKG Kelas II NTT Rahmattulloh Adji, Kadis Pertanian NTT Lucky F. Koli dan Kalak BNPN Ambros Kodo dalam ketrangan Pers Kamis (30/03/23)//Dok: Nixon Tae. 

Kupang,Timorexotic.com|| La Nina diprediksi segera beralih menuju netral hingga Februari 2023, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan La-Nina lemah masih berlangsung namun dengan indeks yang mendekati ambang batas normal yaitu -0,52. Sedangkan di Samudera Hindia, pemantauan suhu muka laut menunjukkan kondisi Netral.


Demikian disampaikan Kepala Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas II NTT Rahmattulloh Adji saat jumpa pers di gedung kantor Gubernur NTT pada Kamis, (30/03/23).


Berdasarkan hasil evaluasi Perkembangan musim hujan 2022/2023. Pada awal September 2022, BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur merilis bahwa, musim hujan 2022/2023 diprediksi akan datang lebih awal dibanding biasanya. Hasil pemantauan hingga Februari 2023 menunjukkan 100% zona musim (ZOM) Nusa Tenggara Timur telah mengalami musim hujan. Secara umum sebagian besar ZOM memasuki musim hujan pada bulan Oktober hingga November 2022 serta mengalami puncak pada Februari 2023.


"Fenomena La Nina ini diprediksi akan segera menuju Netral pada periode Maret 2023 dan terus bertahan hingga akhir semester pertama 2023. Pada semester kedua, terdapat peluang sebesar 50-60% bahwa kondisi Netral akan beralih menuju Fase El Nino Lemah. Sementara itu, kondisi IOD diprediksi akan tetap netral hingga akhir tahun 2023," pungkas Adji.


Lanjutnya, awal musim kemarau umumnya berkait erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia). BMKG memprediksi Awal Musim Kemarau terjadi seiring aktifnya Monsun Australia pada April 2023 yang akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan Bali.


Dari total 28 ZOM di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 27 ZOM (96,43%) diprakirakan akan mengawali Musim Kemarau bulan April 2023, sedangkan untuk 1 ZOM (3,57% ), Awal Musim Kemarau terjadi pada bulan Mei 2023.


"Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis, Awal Musim Kemarau (periode 1991- 2020), maka awal Musim Kemarau 2023 di Nusa Tenggara Timur diperkirakan maju pada 13 ZOM (46,43 %), sama dengan normalnya pada 8 ZOM (28,57%) dan mundur pada 7 ZOM (25,00 %). Wilayah yang awal kemaraunya diprediksikan maju yaitu sebagian kecil Kab. Manggarai Barat, sebagian kecil Kab. Manggarai, sebagian kecil Kab. Manggarai Timur, sebagian kecil Kab. Ngada, sebagian kecil Kab. Nagekeo, Kab. Ende, Kab. Sikka, sebagian Kab. Flores Timur, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Timur, Kab. Rote Ndao, sebagian kecil Kab. Kupang, sebagian besar Kab. Timor Tengah Selatan, sebagian kecil Kab. Timor Tengah Utara, sebagian besar Kab. Belu dan sebagian Kab. Malaka," jelas Adji.


Puncak Musim Kemarau 2023 di wilayah Nusa Tenggara Timur diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus 2023 sebanyak 17 ZOM (60,71% ) Namun demikian, terdapat beberapa wilayah yang mengalami puncak Musim Kemarau pada bulan Juli 2023 sebanyak 5 ZOM (17,86%) dan September 2023 sebanyak 6 ZOM (21,43%).


Musim Kemarau pada tahun 2023 umumnya akan tiba lebih awal dibandingkan dengan biasanya. Curah hujan yang turun pada periode musim kemarau 2023 diprediksi akan normal hingga lebih kering dibandingkan biasanya. Meskipun demikian ada beberapa daerah yang diprediksi mengalami curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Periode puncak musim kemarau diprediksi umumnya terjadi di Agustus 2023.


Dalam menghadapi Musim Kemarau 2023, BMKG menghimbau K/L, Pemerintah Daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat untuk lebih slap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang mengalami sifat Musim Kemarau bawah normal (lebih kering dibanding biasanya).


"Wilayah tersebut diprediksi mengalami peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan kekurangan air bersih. Pemerintah Daerah dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada akhir musim hujan ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan. Mari kita jadikan informasi Prakiraan Musim Kemarau 2023 ini sebagai bentuk Peringatan Dini (Early Warning), untuk dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam Aksi Dini (Early Action), sehingga upaya pencegahan dapat terus diprioritaskan dengan tetap adanya penanggulangan bila bencana tetap terjadi," tutup Kepala Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas II NTT Rahmattulloh Adji.

Penulis: Nixon Tae

×
Berita Terbaru Update