Notification

×

Iklan

Iklan

Puluhan Hektare Sawah di Watukapu Kekurangan Air, Terancam Gagal Panen

Jumat, 02 Juni 2023 | 2:25 PM WIB | Di Baca 0 Kali Last Updated 2023-06-02T06:26:43Z

 

Areal pertanian padi di Desa Watukapu, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada. (Foto: Agus) 

Ngada,Timorexotic.com|| Puluhan hektare areal pertanian padi di Desa Watukapu, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada terancam gagal panen karena kekurangan pasokan air akibat kemarau yang sudah berlangsung sejak sebulan lalu sehingga petani khawatir akan mengalami kerugian materi yang cukup besar.


Pantauan tim media ini pada Jumat, (02/6/23) puluhan hektare sawah di sekitaran RT.02, Dusun 01 Translok, Desa Watukapu terancam gagal panen akibat kemarau.


"Kondisi lahan sudah kering sejak kemarau yang terjadi sebulan lalu, dan ini bisa saja gagal panen," jelas Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Watukapu Fransiskus Bhebu.


Ia menuturkan, hujan sudah lama tidak turun sehingga areal persawahan di Kampung Watukapu (Translok, red), kekurangan pasokan air, bahkan beberapa lahan sudah mengalami retakan-retakan tanah.


Menurut Ketua BPD, jika dalam sepekan ke depan hujan tidak turun maka akan terjadi gagal panen, atau petani akan mengalami kerugian materi karena tidak akan dapat untung dari hasil menanamnya.


"Setidaknya minggu-minggu ini ada hujan, sehingga kondisi padi yang saat ini berusia dua bulan bisa diselamatkan," katanya.


Ia menyampaikan, musim kemarau tahun ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya karena menyebabkan tanah sawah retak-retak, bahkan tanaman padi yang sudah berusia dua bulan tidak tumbuh sesuai harapan.


"Kami berharap kemarau ini tidak terlalu panjang agar warga tetap bisa bertani," ucap Frans.


Sementara menurut Yohanes Dhewa, petani di Watukapu juga menambahkan, lahan sawah yang terdampak kekeringan sekitar 50 hektare. Petani hanya bisa pasrah terhadap keadaan.


"Ini sudah sebagian besar diperkirakan akan mengalami gagal panen," tuturnya.


Lahan sawah di Desa Watukapu, kata dia, merupakan sawah tadah hujan, jika hujan tidak turun maka di lahan pertanian tersebut petani tak bisa bercocok tanam dan tidak bisa menghasilkan.


"Makanya saat hujan tidak turun satu bulan saja bisa kekeringan," jelasnya.


Lebih lanjut disampaikan Gradus Nuku Gewe, salah seorang petani di wilayah itu menguraikan, total kerugian dari sejak rintis hingga tanam per orang bisa mencapai 8.000.000 per hektare. 


"Tahun 2023 ini kami benar-benar tidak bisa berharap apa-apa dari hasil tanaman padi, dan kami hanya bisa pasrah," keluh Gradus.


Padahal, kata Gradus biasanya kalau cuaca bagus, penghasilan dari masing-masing bisa mencapai 5 Ton per hektare. Petani pasrah dengan kondisi ini karena ketiadaan air.


"Bisanya kalau dalam sekali panen itu bisa mencapai 5 ton per hektare dan itu pun kalau kurang perhatian, namun bila perhatian penuh itu bisa satu hektar bisa mampu sampai 10 ton," urainya. (AT/TE)

×
Berita Terbaru Update