Notification

×

Iklan

Iklan

Lokasi Perkemahan Pemuda, Rumah Tangga dan Bakti Wanita Untuk GMAHK DNT Akan Menjadi Agrowisata

Sabtu, 08 Oktober 2022 | 11:57 AM WIB | Di Baca 0 Kali Last Updated 2023-01-12T17:52:56Z

Kupang.Timorexotik.com|| Kegiatan Perkemahan Pemuda, Rumah Tangga dan Bakti Wanita Untuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Daerah Nusa Tenggara. Daerah Nusa Tenggara adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan sebagian Provinsi Maluku kususnya Maluku Barat Daya.

Kegiatan perkemahan tersebut berlokasi di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, terselenggara mulai Kamis, 06-09 Oktober 2022. 

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah membina umat agar tetap rohani, Anak-anak muda menjadi tiang-tiang gereja, pemimpin-pemimpin gereja. Sedangkan orang-orang tua yang disebut dengan rumah tangga dan bakti wanita Advent menjadi pembimbing anak-anak muda untuk memelihara imannya, bertahan sampai hidup yang terakhir.

Jumlah peserta yang mendaftar saat itu 1000 orang yang dibagi dalam anak-anak, pemuda, rumah tangga dan bhakti wanita. 

Demikian disampaikan Pdt. Mesnick Ataupah, S.Th,S.H saat dijumpai awak media pada, Jumat 7 Oktober 2022 siang. 

Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut bukan hanya datang dari daerah NTT akan tetapi datang juga dari Maluku Barat Daya yang diwakili oleh Pulau Kisar dan juga Pulau Wetar. Tempat atau tanah yang saat ini digunakan sebagai tempat perkemahan, dalam perencanaan akan dijadikan sebagai tempat wisata pertanian.

"Semua yang daftar hadir bahkan ini kelihatannya lebih karena mendaftar ulang lagi di sini ada yang tambah dari jumlah sebelumnya, kita sudah merancang namanya adalah agrowisata. Jadi kita akan membuat daerah ini menjadi daerah wisata multikultura dan juga wisata dengan luasnya kurang lebih 36 hektar," jelas Pdt Mesnick. 

Dalam kegiatan tersebut terdapat lomba untuk anak-anak, ada lomba berhotbah dan cerdas cermat kemudian terdapat seminar rumah tangga, seminar untuk hidup sehat dan seminar pertumbuhan anak. 

Kepemilikan daripada tanah tersebut adalah milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang mana pada tahun 1967 dibeli oleh Pendeta Alex Rangtum yang juga adalah pemimpin Sekolah Lanjutan Advent yang disebut dengan Nusa Tenggara Akademi. 

"Sekolah-sekolah tersebut awalnya berada di Knetek, Knetek itu ada di Amarasi tapi karena jarak dari Kupang, air yang harus turun ke dalam jurang baru mendapat air maka kemudian mereka membeli tanah ini," jelasnya. 

Pemilik lahan tersebut pada awalnya dimiliki oleh orang Cina dan waktu orang Cina memiliki tanah ini mereka pekerjakan juga masyarakat sekitar namun belum banyak penduduk. Tanah tersebut pun dijual kepada seorang polisi dan polisi tersebut menjual kembali kepada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. 

"Nah waktu kita beli dari polisi ada satu rumah bebak di dalam tanah ini. Rumah bebak ini adalah milik pekerja dari orang Tionghoa tadi. Kalau tidak salah namanya itu Yakub Sine, maka setelah kami beli ini kami juga kasih ganti rugi rumahnya supaya dia keluar dari tempat ini jadi inilah kepemilikan dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di daerah Nusa Tenggara, " jelas Pdt Mesnick.

Setelah Sekolah Nusa Tenggara Akademi pindah dari Amarasi ke tanah yang telah dibeli, dibangun di tanah tersebut yang merupakan milik dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Terdapat sekitar dua atau tiga angkatan yang bersekolah di sekolah tersebut. Akan tetapi, yang menjadi masalah saat itu adalah rute perjalanan atau jangkauan masuk ke sekolah tersebut belum ada. Sehingga para siswa-siswi melintas melalui pematang sawah. 

"Untuk guru-guru setelah pendeta Alex Rangtum tidak lagi menjadi kepala sekolah sudah menjadi pemimpin daerah maka ada kepala sekolah yang lain yang namanya Emo Sahetapi kemudian ada guru yang lain datang ke sini dari Jawa. Ada yang namanya Pendeta Cakra Perwira, ada yang namanya Pendeta Tambunan," ujar Pendeta Mesnick.

Pada saat itu nyamuk malaria cukup banyak sehingga guru-guru yang berasal dari Jawa kembali ke kampung halamannya. 

Pendeta Mesnick menambahkan, "Peserta didik yang bersekolah di wilayah tanah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berasal dari berbagai tempat ada yang dari Amarasi, Soe, Rote, Flores bahkan pemimpin-pemimpin Gereja saat ini, waktu itu bersekolah di sini baru ada yang pensiun baru-baru ini," imbuhnya. 

Ia menjelaskan bahwa masyarakat sekitar pada awal tinggal di pinggir-pinggir dari tanah tersebut, akan tetapi sering terjadi kebanjiran mereka minta untuk tinggal di lokasi itu dan oleh pemimpin gereja diberikan untuk tempat tinggal tapi tidak diberikan untuk memiliki hanya diberi tempat tinggal. 

"Nah kalau kita sudah pakai ini atau bangun ini untuk kepentingan masyarakat umum ya kita akan pakai semua karena kita dan mereka mengakui bahwa itu tanah milik kita, mereka hanya numpang selama ini mereka kerja mereka masih banyak antar uang sewanya ke kita walaupun tidak semua mengantar semacam ada surat-surat mereka kepada kita meminta pelepasan hak, tetapi kan kita tidak memberi karena kita punya tujuan untuk membangun pariwisata pertanian disini yang terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir. 

Ada konsep besar yang akan kita bangun di sini kita sudah perkenalkan juga kepada seluruh umat bahkan waktu pembukaan utusan Gubernur juga sudah sampaikan dan keputusan Gubernur juga sangat mendukung karena ini akan menjadi tempat pembelajaran bukan hanya Nusa Tenggara tapi juga Indonesia. 

"Kita sudah susun rencana untuk ketemu hari Selasa akan datang untuk membicarakan konsep pembangunan integrasi di sini dengan pihak pemerintah dalam hal ini Biro Kesra," tutup pendeta Mesnick.


Penulis: Febro Kapitan 

Editor Nixon Tae 

×
Berita Terbaru Update