Notification

×

Iklan

Iklan

Problematika Penggunaan Bahasa Indonesia Bagi Kaum Muda Indonesia

Rabu, 14 Juni 2023 | 6:21 PM WIB | Di Baca 0 Kali Last Updated 2023-06-14T10:21:18Z

 

Opini :MARSIANUS SIRNOFOT L. ARLI
Universitas Widya Mandira Kupang
Fakultas filsafat
Pengaruh globalisasi dalam kehidupan manusia memberikan pelbagai nilai positif dan negatif. Nuansa serba instan, globalisasi memberikan segala kemudahan bagi kita berkomunikasi dan mengakses informasi maupun mengunggahnya ke rana publik. Kualitas sumber daya manusia semakin dipertajam melalui pembaharuan IPTEK. Kita boleh saja berstatus pemilik atas segala perubahan dan milinealitas dengan mengeksplorasi jangkauan wilayah dunia maya demi memperkuat klaim diri personal. 

Namun, tanpa kita sadari globalisasi memudarkan indentitas pribadi secara perlahan-lahan. Yang menarik adalah kelahiran banyak anak manusia pengkonsumtif aktif. Konsumtif dalam artian sederhana disebut sebagai perilaku tamak; tamak bagi diri sendiri maupun bagi orang lain berimplikasi pada rasa malas yang dituding sebagai pembunuh berdarah dingin karakter seseorang.


Fenomena diri di Indonesia, menginfeksi bagaikan virus. Pluralisme kehidupan masyarakatnya memberi peluang besar akan terjangkit virus lupa diri. Komplesksitas virus ini menyulitkan kita menentukan penawar yang tepat. Sebagian orang menyarankan untuk memperdalam lagi iman. 


Namun, dalam realitasnya pendalaman iman mendatangkan sikap fanatisme dan radikalisme. Mereka mulai mengelompokan diri sesuai selera dan mengharuskan orang lain juga ikut mereka. Karap kali pemaksaan ini disertai pemberontakan, perusakan dan peperangan mengatasnamakan agama. Ada juga yang meminta merevitalisasi Pancasila dan UUD 1945 demi memperjelas kebhinekaan Indonesia. 


Namun, perubahan revitalisasi yang terjadi dirasakan menjadi pemilik para jenius politikus untuk melanggengkan kekuasaannya. Bahkan ada dari mereka mencuri uang masyarakat dan kekayaan alam bumi pertiwi. 


Indentitas Bangsa Indonesia pertama kali lahir dari Sumpah Pemuda. Keinginan memadukan bangsa yang plural terwujud pada tanggal 28 Oktober 1928. Para pemuda-pemudi atas dasar semangat nasionalisme mengakomudir segala perbedaan menjadi satu; satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yaitu Indonesia. 


Perjuangan para pemuda-pemudi juga yang mempercepat proses kemerdekaan. Mereka tergabung dalam kelompok muda mendorong kelompok tua (founding fathers) memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. History Bangsa Indonesia sangat eksplisit menerangkan salah satu alat pemersatu bangsa adalah Bahasa Indonesia. 


Bahasa mengidentifikasi indentitas bangsa kita dengan bangsa lain dan dunia. Tanpa adanya bahasa yang satu, kita tentu akan kesulitan berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai suku,  daerah, dan budaya. Bahasa Indonesia memiliki pedoman dan dibukukan dalam EYD.


Walaupun memiliki bahasa resmi, masih saja terjadi penyimpangan pengaplikasiannya dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang semakin bingung menentukan kata atau kalimat baku. Mengapa? Sentilan pengaruh negatif globalisasi disinyalir membawa perubahan yang signifikan dalam diri seseorang khususnya dalam berbahasa. 


Realiasasi unsur asing menambah jumlah kebingungan masyarakat dalam  berkomunikasi. Ketidakbakuan ini dapat kita temukan bukan hanya dalam pengucapan, melainkan juga dalam penulisan. Problematika penggunaan Bahasa Indonesia merupakan ancaman serius bagi keutuhan Bangsa Indonesia. 


Ada dua jenis bahasa yang muncul saat ini dan menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kaum muda yaitu Bahasa Prokem yang disebut Bahasa Gaul dan Bahasa Alay. 


Bahasa Prokem merupakan salah satu cabang dari Bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja, yang muncul akhir tahun 1980-an.Penggunaan Bahasa Prokem di kehidupan sehari-hari yaitu bokap, nyokap, loh, gue dan enggak dan lain sebgainya. 


Sedangkan Bahasa Alay merupakan bahasa yang khas dalam aspek tulisan dan berbeda dari Bahasa Indoensia yaitu “iYa nIe”, “aBiS LAgI sIbUq siCh”, chayank, beb, dan lain sebagainya. Padahal komunikasi tidak akan sempurna bisa kalau menimbulkan ambigu pada lawan bicara. 


Menurut P. Yohanes Orong dalam bukunya "Bahasa Indoensia Identitas Kita" mengatakan bahwa problematik penggunaan Bahasa Indonesia adalah persoalan alternatif bahasa yang berkembang dan dapat memicu persoalan yang rumit. Hal itu seperti virus yang cepat bergeneralisasi. 


Generasi muda sebagai ujung tombak Bangsa Indonesia dikhawatirkan akan berkurang rasa nasionalismenya jika tidak diimbangi dengan akses berbahasa yang baik dan benar. Mereka ibarat kapal tanpa kompas yang mengarungi samudera dan mungkin saja karam di tengah badai globalisasi era digital. Problematika penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari harus menjadi perhatian serius seluruh lapisan masyarakat. 


Bahasa Indonesia akan kehilangan eksistensinya sebagai salah satu faktor pemersatu Bangsa Indonesia jika tindakan preventif tidak diikutsertakan. Maka dari itu kita selaku warga Indonesia wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat Bangsa Indonesia melalui berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 


Hal ini menjadi tugas kita khususnya kaum muda. Bagaimana caranya? Caranya adalah membiasakan diri menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik mulai dari diri kita sendiri.  Sikap selektif dan kristis  terhadap setiap pengaruh asing perlu digala sedini mungkin mulai dari dalam keluarga. Setelah itu marilah kita mengajak teman-teman dan orang-orang di sekitar kita untuk menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Niscaya keutuhan Bangsa Indonesia akan terjaga kalau kita tahu berbahasa.**

×
Berita Terbaru Update