Notification

×

Iklan

Iklan

Daya Tarik Wisata Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa, Teluk Gurita

Senin, 19 September 2022 | 10:04 PM WIB | Di Baca 0 Kali Last Updated 2023-01-12T18:12:24Z
Patung Bunda Maria Teluk Gurita/Dok:Denshy 

Belu,Timorexotik.com|| Daya Tarik Wisata Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa atau yang lebih dikenal dengan Daya Tarik Wisata Patung Bunda Maria Teluk Gurita merupakan salah satu daya tarik yang ada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. 

Destinasi ini dibuka pada 26 Desember 2019 dengan total jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 10.964 wisatawan, sedangkan pada bulan Januari 2020 destinasi ini mengalami peningkatan drastis dengan total jumlah kunjungan sebanyak 27.009 wisatawan, sementara total jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi pada Februari 2020 sebanyak 3.112 wisatawan (11 Februari 2020). 

Namun diawal tahun 2020 lalu sekitar pertengahan bulan Februari destinasi ini kembali ditutup karena pandemi covid-19 dan dibuka kembali pada awal tahun 2021 pengunjung mengalami penurunan drastis dengan total jumlah kunjungan wisatawan 6.579 wisatawan, pada awal tahun 2022 (Januari-Maret) jumlah pengunjung di Daya Tarik Wisata Patung Bunda Maria mengalami peningkatan yang sangat drastis selama tiga bulan dengan total jumlah kunjungan 10.668 wisatawan hingga kini sudah diberlakukan new normal dalam daya tarik wisata Patung Bunda Maria, karena Daya Tarik Wisata ini masih dalam tahap pengerjaan lanjutan.

Daya tarik wisata Patung Bunda Maria Segala Bangsa berdasarkan peta jarak dari Kota Atambua ke daya tarik wisata Patung Bunda Maria Segala Bangsa Teluk Gurita sekitar 22 km dalam waktu tempuh sekitar 36 menit hingga 60 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Alasan mengapa Teluk Gurita yang menjadi lokasi pembangunan daya tarik ini karena selain untuk membantu mengembangkan perekonomian masyarakat, dilihat dari segi sejarah masuknya agama Katolik ke daratan Atambua melalui daerah Atapupu. Hal ini didukung dengan data yang diperoleh dan hasil wawancara bersama Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Bapak Michael Bria, S. Sos mengungkapkan bahwa, 

"Awalnya pembangunan Patung Bunda Maria akan dibangun di Kota Atambua tepatnya di gunung Lidak, namun dilihat dari segi sejarah masuknya agama Katolik pertama ke daratan Timor, awalnya dari daerah Atapupu bukan Atambua. Selain itu jika destinasi in dibangun di Atambua maka yang akan mendapatkan keuntungan hanya masyarakat Atambua saja, akan tetapi jika dibangun di daerah Teluk Gurita maka akan membantu memperbaiki perekonomian masyarakat di daerah Atapupu. Karena yang mengunjungi destinasi wisata Patung Bunda Maria bukan hanya masyarakat lokal dalam hal ini mayarakat Atambua saja namun ada juga dari daerah lain seperti maryarakat TTU, TTS dan Kupang bahkan warga negara tetangga yakni negara Timor Leste juga berkunjung ke destinau ini. Selain itu juga di daerah Atapupu ada satu event tahunan yang disebut dengan festival Nai Feto Lalean dimana event ini biasanya dilakukan melewati destinasi wisata patung Bunda Maria," jelas Michael Bria saat diwawancarai, 12 Juli 2022. 

Secara hukum destinasi ini dibangun pada lahan pemerintah namun secara adat istiadat destinasi ini dibangun pada lahan milik suku Umakaliduk, sehingga sebagai bentuk kompensasi pemerintah kepada suku ini maka pemerintah menjadikan putera suku Umakalihak sebagai tenaga kontrak (teko) di destinasi dan juga pemerintah membangun 3 (tiga) rumah adat yang diletakkan disalah satu destinasi yang jaraknya tidak jauh dari destinasi wisata Patung Bunda Maria. Destinasi wisata ini dibangun pada luas lahan 6 Ha dengan tingggi patung sendiri 32 meter dan peletakannya 9 meter sehingga totalnya 41 meter. Destinasi ini berada pada ketinggian 117 mdpl, sehingga ketika berada di puncak destinasi maka pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam sekitar dengan sangat jelas.

Adapun gambaran kondisi destinasi ini berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dan hasil pengambilan data di Kantor Desa Dualaus (Kantor Desa Dualaus, 18 Juli 2022) antara lain. 

Kondisi Fisik Kimia

Secara administratif, Destinasi Wisata Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa Teluk Gurita terletak dalam wilayah Fatuloko, Dusun Teluk Gurita, Desa Dualaus, KecamatanKakuluk Mesak, Kabupaten Belu berbatasan langsung dengan Desa Fatuketi dibagian Selatan, Desa Dualaus disebelah Utara, Desa Leosama disebalah Timur dan Desa Fatuketi di sebalah Barat. Destinasi wisata Patung Bunda Maria memiliki suhu udara yang cukup panas karena berada pada ketinggian 117 mdpl. Musim penghujan berlangsung dari bulan Desember sampai bulan Maret, dengan musim hujan yang sangat rendah menyebabkan kekeringan sehingga didalam kawasan destinasi ini ditanam anakan pohon rimba agar ketika mengunjungi destinasi ini wisatawan tidak terlalu merasakan panas. Secara hukum destinasi ini dibangun pada tanah milik negara sedangkan secara adat istiadat destinasi ini dibangun pada tanah milik suku Umakaliuk dengan luas lahan 6 ha dan ketinggian patung 41 meter terhitung dengan peletakannya. 

Kondisi Biologi

Jenis flora yang terdapat dalam kawasan destinasi wisata Patung Bunda Maria Teluk Gurita beragam jenisnya, seperti pohon nimba pohon bidara, dan pohon flamboyan (sepe). Hasil obeservasi dan didukung dengan keterangan yang diperoleh dari penjaga dan pengelola destinasi wisata Patung Bunda Maria, bahwa tidak ada jenis mamalia yang masuk dalam kawasan destinasi karena destinasi ini sudah dibuat pagar sebab destinasi ini merupakan destinasi rohani jadi tidak pantas untuk ada mamalia yang masuk apalagi sampai ada kotoran yang ditinggalkan oleh mamalia yang masuk dalam kawasan destinasi ini.

Kondisi Sosial Demografi

Sebagaimana telah dikemukakan pada kondisi fisik kimia bahwa destinasi wisata Patung Bunda Maria terletak dalam wilayah Fatuloko, Dusun Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu dengan luas wilayah desanya 1776 Ha, dengan perincian penggunaan 936 Ha dataran dan 840 Ha perbukitan, Jumlah penduduk Desa Dualaus berdasarkan hasil pendataan pada tahun 2017 sebanyak 4.376 jiwa, dengan rincian laki-laki 2.253 orang dan perempuan 2:123 orang dari 1541 rumah tangga, dimana seluruhnya berwarga negara Indonesia (WNI).

Menyangkut pendidikan di Desa Dualaus ada beberapa sekolah, seperti SD Inpres Susuk, SDK Lakafehan, SMPN 1 Tasifeto Barat dan sekolah menegah atas (SMA) yakni SMK Negeri Kakuluk Mesak Sementara sebagian besar penduduk Desa Dualaus beragama Katolik sebesar 90,13%, Protestan sebesar 7,11% dan Islam sebesar 2, 76%. 

Kondisi Sosial Ekonomi

Mayoritas penduduk Desa Dualaus berdasarkan keadaan geografis yang sudah dijelaskan pada gambaran umum Desa Dualaus, bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Selain itu, masyarakat juga menggantungkan hidupnya dengan mengais sari dari tanaman lontar atau tuak yang dijadikan bahan minuman lokal dan gula lempeng serta tanaman komoditi seperti mangga dan nangka untuk dijual sebagai tambahan penghasilan. 

Selain mengandalkan hasil laut dan olahan tanaman lontar ataupun tanamanan komoditi, masyarakat berusaha meningkatkan penghasilan perekonomian rumah tangganya dengan beternak,seperti sapi maupun ternak kecil seperti babi, kambing dan ayam serta untuk menopang hidup sebagian masyarakat memilih untuk menjalankan usaha kecil-kecilan berupa kios atau warung serta berprofesi sebagai penenun. 

Sumber Penelitian: Denshy Olivia Dolu Mautey. 

×
Berita Terbaru Update